Skip to content

contoh kasus Behavior

CONTOH KASUS BEHAVIOR

R adalah siswa kelas XI SMA swasta di Yogyakarta, R adalah anak tunggal dari keluarga kaya. R tidak disukai oleh teman-temannya karena R selalu menyalahkan orang lain atas kesalahan yang R buat sendiri, ia selalu mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahannya. R sadar bahwa ia tidak diterima oleh teman-temannya, R merasa bersalah, jahat, kejam dan takut kalau suatu saat nanti ia tidak memiliki teman. Namun, R juga takut untuk mengakui kesalahan-kesalahannya sendiri. R datang kepada konselor dan menceritakan masa kecilnya. Seperti saat R kecil jatuh dari sepeda, orangtua R membantu R bangun dan menyalahkan batu yang membuat sepeda R oleng, saat R jatuh pun orangtua R menyalahkan katak (yang bahkan tidak ada) yang sudah membuat R jatuh dan membuatnya menangis. Pada intinya orangtua R selalu mencari pembenaran agar R kecil tidak menangis lagi. Kini imbasnya kepada R yang sudah remaja, dan dia ingin berubah.

contoh kasus Psikoanalisis

CONTOH KASUS PSIKOANALISIS

R.A (23) seorang mahasiswa disalah satu universitas swasta di Yogyakarta. R.A adalah gadis yang sangat menyenangkan dan terbuka dengan teman-temannya. namun suatu saat R.A tidak pernah lagi masuk kuliah, dia tidak izin dan dihubungi pun sulit. Setelah diusut, R.A ditemukan di kontrakan daerah Jakarta dalam kondisi sakaw. Ternyata R.A kabur dengan pacarnya yang sesama perempuan. R.A kabur karena merasa tertekan dengan keadaan rumah, sejak ia kecil selalu melihat ibunya dipukuli oleh ayahnya, hal itu yang membuat R.A menjadi benci dengan laki-laki. R.A sadar bahwa tindakannya salah, ia ingin menjadi normal lagi, tetapi ia tak kuasa untuk melawan keinginannya sendiri.

Contoh kasus Rational Emotive Behaviour

Contoh kasus REBT.

Ada seorang mahasiswa, sebut saja R. Dia memiliki seorang pacar yang bernama Y. Mereka sudah menjalin hubungan sejak kelas 3 SMP. Si R sangat menyayangi dan mencintai D walaupun mereka sering mendapatkan masalah. Hubungan mereka lambat laun menjadi makin intim. Begitu masuk ke perguruan tinggi, Y dan R berpisah karena perguruan tinggi mereka berada di kota yang berbeda, si Y mulai berubah dan menjalin hubungan dengan orang lain tanpa sepengetahuan R. Pada akhirnya Y memilih menikah dengan orang baru tersebut tanpa sepengetahuan R pula. Pada suatu ketika R mengetahui hal tersebut, dan itu membuat dia sangat terpukul. Si R mulai tidak bisa beraktivitas, yang dia lakukan sehari-hari hanya menangisi D yang pergi, tidak mau makan atau bersosialisasi lagi. Pada suatu ketika R meengatakan pada orang tuanya “Saya tidak akan menikah seumur hidup, kecuali saya menikah dengan D”.

Contoh Kasus Person-centered dalam Teori dan Pendekatan Konseling

CONTOH KASUS

Ada seorang mahasiswa, sebut saja X. Dia berpikir semua akan dengan mudah dia kerjakan, seperti tugas dari dosen dll. Dia selalu bersikap bisa semua, bersikap seolah-olah itu bukan masalah bagi dia. Namun sebenarnya X ini tergolong mahasiswa yang pemalas, X selalu menghalalkan segala cara agar tugasnya selesai dan mendapat nilai plus di mata dosen. X bersikap “sok” bisa untuk menutupi kekurangannya, dia ingin seperti teman-teman yang lain yang bisa mengerjakan tugas-tugas itu dengan sangat baik, namun akhir-akhir ini dia sadar tidak bisa bekerja dengan baik, sebaik teman-temannya.

 

CONTOH KASUS 2

Sebut saja “Mawar”.

Mawar adalah seorang siswa kelas XII SMA Y yang sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional. Namun Mawar tidak pernah mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar dan orang tuanya sendiri. Mawar tidak pernah mendapatkan kasih sayang, perhatian dan pengertian dari keluarga, selalu di biarkan dan dibebaskan. Hingga suatu ketika Mawar mencari pelampiasan di luar keluarganya, seperti pacaran di luar batas norma, pergaulan yang sangat bebas. Hal itu Mawar lakukan karena merasa diterima dan dia merasa dipahami di lingkungan barunya itu, dia merasa mendapatkan kasih sayang yang selama ini Mawar tidak dapatkan di dalam keluarganya.

Aku bukanlah Aku

Entahlah, apakah ini hanya perasaanku saja atau ini memang nyata.

Aku melihat Aku yang lain yang sama dengan Aku ini. Aku merasa selama ini Aku selalu “Jahat” dengan Aku. Aku sadar ada Aku yang lain di dalam diri Aku ini. Aku sadar Aku yang lain itu ikut berjalan dengan sepatu Aku. selama ini Aku yang lain tinggal di dalam tubuh Aku, kemanapun, di manapun, kapanpun, apapun yang Aku lakukan, Aku yang lain selalu mengikuti gerak-gerikku, seolah-olah Aku yang lain sudah paham benar bagaimana kegiatanku setiap harinya.

Namun, yang berbeda adalah saat Aku tertawa bahagia, Aku yang lain sangat marah padaku. begitu sebaliknya, saat Aku menangis, Aku yang lain tertawa puas.

saat Aku di kelilingi orang-orang yang menyayangiku, Aku yang lain ada di seberangku dengan membawa sebilah samurai untuk membunuh orang-orang yang membuatku bahagia.

Namun, saat Aku terpuruk, Aku yang lain sangat bahagia dengan membuat sebuah pesta megah di dalam Aku, mentertawakan Aku.

Saat Aku berhasil mencapai sesuatu, maka saat itu pula Aku yang lain sedang berusaha untuk membuat perangkap agar Aku gagal.

Saat Aku akan mengerjakan sesuatu, p